47 Tahun Berdiri, Rumah Makan Sudi Mampir di Solsel Selalu Sediakan Makanan Gratis

Rumah makan Sudi mampir Solok Selatan
Rumah makan Sudi mampir Solok Selatan (Kaka)

KLIKPOSITIF - Hari Beranjak Siang berjarak sekitar 40 meter dari Ruang terbuka hijau (RTH) Padang Aro, tepatnya didepan SDN 06 durian tarung. Suara denting piring di Rumah Makan Sudi Mampir terdengar bersahutan. Para pelayan rumah makan tertua di ibukota Solok Selatan Padang Aro tersebut sibuk melayani tamu yang hendak makan siang itu.

Pelayan yang semuanya laki-laki ini, menyapa ramah setiap tamu yang datang, dari berbagai latar belakang profesi. rata-rata mereka sudah berlangganan dan memesan makanan favorit mereka yang menjadi spesifik Rumah Makan Sudi mampir yaitu Dendeng kering dan Gulai Ayam kampung.

baca juga: Kasus Covid-19 di Padang Meningkat, Satpo PP Turun ke Jalan

Rumah makan Sudi mampir yang saat ini dikelola Doni Revendra (35) bungsu dari tujuh bersaudara Putra-putri rostinar (76) sang pendiri Rumah Makan ini mengatakan, untuk memanjakan tamu pihaknya tetap menyediakan sambal kampung yang dicampur jengkol setiap harinya.

"Selain makanan spesifik Dendeng kering dan Gulai Ayam kampung, serta sambal lainnya, jengkol tetap tersedia berapa pun harganya dipasaran, namun tidak merobah harga setiap porsi makan disini," kata Doni

baca juga: 2020 Kecelakaan Lalulintas di Padang Pariaman Masih Tinggi, Polisi Catat 349 orang Jadi Korban

Selain itu kata doni, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT, pihaknya juga memberikan makan gratis bagi tamu-tamu yang sedang melakukan puasa sunah.

"Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah ta'ala, Kalau ada yang puasa sunah berbuka puasa disini, kami berikan menu berbuka masakan disini yang menjadi kesukaan mereka secara cuma-cuma, itu ada tulisan gratis bagi yang puasa sunah," ujarnya menunjuk sebuah tulisan di etalase masakan Rumah Makan tersebut.

baca juga: Pemda Pariaman Kembali Kibarkan Bendera dan Upacara HUT RI di Dalam Laut

Awal mula Berdiri

Mendengar Nama sudi mampir akan terlintas dipikiran kalau rumah ini dikelola oleh masyarakat keturunan jawa yang berdomisili di Solok Selatan. Namun dugaan tersebut salah, sebab rumah makan khas masakan minang ini dirintis Hj. Rostinar kelahiran alai sako muara labuh 76 tahun silam.

baca juga: UAS ke Bukittinggi Dua Hari, Catat Jadwalnya

Hj. Rostinar menceritakan pada tahun 1974 sekembalinya merantau dari Jambi rumah makan ini dirintisnya bersama almarhum suaminya. "pertama kali dibuka tahun 1974, saat itu di Padang Aro ini masih sepi belum ramai seperti sekarang," kata rostinar dengan dialek khas Muara Labuhnya menceritakan.

Merk SUDI Mampir

Sepulang dari jambi rostinar muda lansung ke Padang Aro, mendapati Pamannya beristrikan orang Jawa yang telah lebih dulu berjualan Nasi di daerah itu dengan menggunakan Gerobak/etalase merk Sudi Mampir "Waktu itu, saat kami pulang dari jambi Mamak (Paman) saya ini, memutuskan untuk tidak lagi berjualan Nasi. Gerobak yang biasa digunakan berjualan itu dijual kepada kami," kata rostinar.

Tanpa menanggalkan merek sudi mampir di gerobak etalase tersebut, Dia bersama suami mulai merintis usaha menjual nasi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. "Sekarang paman saya itu sudah tiada tetapi merk Sudi Mampir peninggalannya. Alhamdulillah walau sudah 48 tahun tetap ada," kenangnya.

Mempertahankan Cita Rasa Masakan

Bagi mayoritas orang Minang, soal masakan, rasa adalah segalanya, tak jarang setiap kali mencicipi makanan, secara spontanitas terucap dari bibir orang minang, hambar Garamnya kurang, santannya kurang, atau bumbunya kurang, saking hapalnya orang minang terhadap rasa yang terkandung dari racikan setiap masakan.

Hal inilah alasan utama rumah makan sudi mampir tetap eksis sejak 47 tahun silam hingga sekarang. "Racikan bumbu sangat berpengaruh terhadap rasa, makanya sampai sekarang saya masih meracik bumbu, dan secara perlahan mengajarkan kepada anak-anak, proses memasak dengan menggunakan kayu bakar atau gas elpiji juga mempengaruhi cita rasa masakan," kata rostinar.

Seraya berharap rumah makan yang dirintisnya tersebut tetap diteruskan dan dipertahankan oleh anak cucunya.

Lebih parah dampak Pandemi Covid-19 dibanding Krismon 98.

Selama menggeluti usaha banyak suka duka dan pasang surut dari usaha yang dijalani, dan dibutuhkan strategi serta kesiapan mental untuk tetap bisa bertahan. Itupun dirasakan rostinar, sempat goyah saat ditinggalkan sang suami menghadap sang khalik pada akhir tahun 90 an kemudian disambut krisis moneter, dengan tertatih rostinar tetap mempertahankan usaha rumah makan ini. "Dibanding krisis moneter dulu lebih terasa saat pandemi sekarang, saat krismon tidak terlalu terasa pengaruhnya, tetapi pandemi ini, benar-benar membuat ekonomi tidak jalan," katanya.

Segera Pindah ke ruko sendiri

Letak strategis dan mudah terjangkau sering kali mempengaruhi jumlah tamu yang datang ke sebuah rumah makan , hal itu juga dirasakan rostinar.

Ditambahkan Doni revendra Hingga saat ini terhitung sudah empat kali pindah tempat usaha yang ditempati dengan cara dikontrak dengan harga cukup tinggi tersebut. walau tempatnya masih di seputaran Padang Aro.

"Insya Allah bulan Oktober ini kami pindah ke ruko sendiri di simpang empat Padang Aro, juga segera buka cabang di Lubuk malako sangir Jujuan," kata Doni.

Komentar salah seorang pelanggan

Diutarakan Medri Idaman Seorang ASN yang bertugas di Solok Selatan, baginya rumah makan Sudi Mampir sudah tak asing lagi Menurutnya rumah makan ini banyak pilihan menu yang tersedia, karena hampir setiap makan siang makan dirumah makan tersebut.

"Rasanya tidak berubah sejak saya pertama kali makan disini, selesai makan biasanya gulai ayam kampung atau dendeng kering dibungkus untuk dibawa pulang," katanya.

Bagaimana dengan Anda, tertarik makan Dendeng kering atau Gulai Ayam kampung di rumah makan ini?

Penulis: Kamisrial | Editor: Eko Fajri