Berawal dari Jalan Kebun Kopi, Puncak BRJ Jadi Destinasi Wisata dan Kuliner di Solsel

Suasana Puncak BRJ Solsel Sore Hari
Suasana Puncak BRJ Solsel Sore Hari (KLIKPOSITIF/ Kaka)

SOLSEL , KLIKPOSITIF - Berkunjung ke Kabupaten Solok Selatan ( Solsel ) belum lengkap rasanya kalau tidak singgah di Puncak Bangun Rejo (BRJ).

Lokasi ini berhawa sejuk, berada disekitar danau Bukit Bontak, dan Obyek wisata Camin Toran dikaki gunung Kerinci. disini pengunjung bisa menikmati santap siang atau sekedar nongkrong di sore hari sambil menikmati pemandangan ibukota Solok Selatan, atau daerah Padang Aro serta hamparan Bukit Barisan dengan jelas, dan juga perkebunan kopi yang ada disekitar lokasi itu.

baca juga: Kasus Covid-19 di Padang Meningkat, Satpo PP Turun ke Jalan

Untuk menuju tempat dengan ketinggian1000 mdpl ini tidaklah sulit, karena tidak banyak persimpangan jalan, saat anda berada di kantor Bupati Solsel cukup menempuh jalan didepan kantor Bupati ini sepuluh menit sudah sampai di puncak BRJ 7 km dari kantor Bupati Solsel .

Atau jika anda menempuh jalan Padang Aro Sungai penuh Kerinci, pas didepan Mapolres Solsel ada persimpangan lalu tempuh jalan tersebut Lokasi ini 1 km dari Polres Solsel atau berjarak 170 km dari kota Padang.

baca juga: 2020 Kecelakaan Lalulintas di Padang Pariaman Masih Tinggi, Polisi Catat 349 orang Jadi Korban

Bagi sebagian masyarakat Solok Selatan tempat ini sudah tidak asing lagi, tak jarang tempat ini menjadi rekomendasi bagi sahabat, handai taulan serta saudara yang datang dari luar Solok Selatan.

Puncak BRJ Dirintis

baca juga: Pemda Pariaman Kembali Kibarkan Bendera dan Upacara HUT RI di Dalam Laut

Sekira pertengahan tahun 2013 tempat ini mulai dirintis oleh seorang Zulham (48) sehari-hari disapa Zul suku Jawa, petani kopi yang berdomisili di Bangun rejo nagari lubuk gadang selatan kecamatan Sangir Solok Selatan.

Pertama kali dirintis, jalanan disini masih berupa Jalan kerikil, berbeda dengan kondisi saat ini yang sudah diaspal mulus.

baca juga: UAS ke Bukittinggi Dua Hari, Catat Jadwalnya

Berawal dari merawat kebun kopi, meski dipinggir jalan karena lokasi ini masih sepi, Zul memboyong istri dan anaknya yang masih bayi ke kebun untuk sekedar menemani sebagai teman ngobrol disaat merawat tanaman kopinya.

Zul pun membuat gubuk seadanya sebagai tempat berteduh kala hujan turun atau beristirahat kala panas menyengat.

Sang istri Tri Rahayu (41) yang menemani, rupanya merasa bosan juga digubuk tersebut, terutama disaat sang suami bekerja. Tak ingin hanya berdiam diri, dihari berikutnya tak hanya bekal berupa nasi serta gula kopi yang dibawanya, bahan belanja dapur serta pisang beberapa sisir pisang pun dibawa kekebun tersebut.

Sambil menggendong buah hatinya yang masih berumur satu tahun kala itu, Tri Rahayu mencoba membuat gorengan tahu, bakwan serta pisang, dengan harapan syukur-syukur ada yang lewat dan mampir sekedar makan gorengan, dan meminum segelas kopi.

"Waktu itu kopi yang ditanam dikebun ini belum berbuah, si Mas ga ngizinin kita membantu merawat kopi, kata mas, cukup diam disitu aja biar saya yang kerja," ujar Tri Rahayu menceritakan.

Dikunjungi Bupati Solok Selatan

Seiring perjalanan waktu, tersiarlah kabar ada gorengan enak di bangun rejo, dan pada bulan juli tahun 2014 kabar tersebut sampai ke telinga orang nomor satu di kabupaten Solok Selatan waktu itu H. Muzni Zakaria.

Dikatakan Hendrianto ASN di bagian Humas dan protokoler Solok Selatan. Kepedulian H. Muzni Zakaria terhadap daerah serta keinginan untuk memajukan sektor pariwisata yang membuat Bupati tersebut mendatangi gubuk Zul bersama wakil Bupati Abdul Rahman dan beberapa orang ASN pembantunya.

"Waktu itu saya beritahukan kepada Pak Bupati ada gorengan enak di bangun rejo, dan menceritakan indahnya pemandangan dari tempat tersebut," kata Hendrianto.

Membuat anjungan lesehan

Menurut Zul Kunjungan Bupati Solsel tersebut membuat isterinya sedikit kewalahan menyediakan gorengan dan minuman. "Itulah pertama kali kami jual beli hampir lima ratus ribu rupiah, Alhamdulillah, ditambah bonus oleh beliau waktu itu," kata Zul

Tak hanya mencicipi gorengan dan minuman serta menikmati pemandangan disana, Bupati juga memberikan wejangan dan nasehatnya serta memotivasi Zul untuk menata tempat tersebut guna mengangkat ekonomi keluarganya.

"Setelah kunjungan pak Bupati dan Pak Wakil Bupati, saya coba membuat anjungan untuk tempat duduk lesehan seperti saran beliau, dengan material seadanya," kenang zul

Setelah memiliki anjungan tersebut menurut Zul, Bupati datang kembali tetapi saat itu juga ada Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit. Selang beberapa waktu kemudian bersama Bupati juga datang Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Dari sana, Zul kemudian merintis usaha itu lebih serius bersama istrinya, dengan tetap berladang kopi disekitar lokasi itu.

Membangun Lesehan yang lebih Kokoh

Kesabaran itu berbuah manis, benar dirasakan oleh Zul, usahanya berkembang bahkan dihari libur mampu mempekerjakan hingga tujuh orang pemuda dan pemudi dilingkungan tempat tinggalnya. beberapa warga lain yang memiliki lahan juga membangun lesehan disekitar lokasi tersebut,

"Alhamdulillah udah tidak sepi lagi, udah ada yang mengikuti, Alhamdulillah dengan rezki yang dikumpulkan bisa membangun lesehan yang lebih kokoh dari sebelumnya, dan membuka lapangan kerja," ujar ayah dua anak tersebut. Dengan modal yang ada, dan semakin banyaknya orang yang mengetahui lokasi teresebut, lesehan yang dimilikinyapun semakin bertambah, saat ini ada dua lesehan yang iya kelola untuk mencari nafkah dari kunjungan masyarakat ke lokasi itu, diantara lesehan lainnya yang mulai berdiri disekitar sana.

Ayam Penyet Selera Minang

Ramainya orang berkunjung terutama dihari-hari libur, Zul pun menambah varian menu makanan dan minuman untuk memenuhi permintaan pengunjung.

Disini, ayam penyet masakan khas Jawa Timur yang disediakan dapat nikmati dengan sambal pedas sesuai selera orang minang. "Nasinya Beras Solok, sambalnya colekan ayam penyet, pedasnya memang kita sesuaikan dengan selera orang minang," kata Zul

Tujuh tahun menggeluti usaha tersebut, sebagai seorang petani Zul pun rindu dengan profesinya sebagai petani, agar lebih berkembang, kedepan usaha tersebut akan diteruskan anak tertuanya Ilham (18) yang saat ini kuliah di universitas Muhammadiyah Malang dan sedang menyusun skripsi.

"Dulu waktu memulai usaha ini, Ilham masih MTsN, setelah dibicarakan ternyata dia tertarik untuk melanjutkan setelah wisuda nanti. Setelah Ilham wisuda, saya jadi petani sajalah, bosan juga tujuh tahun ini tidak mengeluarkan keringat, biar nanti Ilham yang melanjutkan," ujar Zul.

Bagaimana dengan Anda, sepertinya tempat ini cocok sebagai referensi liburan anda diakhir pekan,

Penulis: Kamisrial | Editor: Eko Fajri