Tamasya ke Nagari Rumah Gadang Sijunjung

"Rumah Gadang jumlahnya terus menurun."
Patung Puti Junjung. (KLIKPOSITIF/Andika)

KLIKPOSITIF -- Saya datang ke salah satu kampung di Sijunjung, minggu lalu. Kabupaten Sijunjung merupakan salah satu daerah pemekaran di Sumbar yang dulunya berada di bawah pemerintahan Sawahlunto.

 Akses ke daerah ini, dari ibukota Provinsi Padang, ditempuh lebih kurang tiga jam menggunakan jalan darat. Salah satu tujuan saya ke sini adalah mengunjungi kampung adat.

Minangkabau (nama lain Sumatera Barat) memang dikenal salah satunya karena rumah adat. Rumah adatnya berbentuk gonjong seperti tanduk kerbau. Budayawan Minangkabau Syuhendri Datuak Siri Maraji mengatakan ada dua jenis rumah gadang Minangkabau yaitu Gajah Maharam dan Rajo Babandiang.

"Bedanya ada pada gonjong. Gajah Maharam gonjongnya berjumlah genap, Rajo Babandiang gonjongnya ganjil," ujar Syuhendri.

Saya datang ke Sijunjung sekira pukul 11.00 WIB.  Lokasinya mudah dicari karena tak jauh dari kantor bupati setempat. Menuju lokasi bisa ditempuh selama 15 menit perjalanan.

Jembatan sepanjang 200 meter merupakan pintu masuk ke kampung ini. Saya disambut patung seorang perempuan yang sedang menjunjung carano. Patung ini bernama Puti Junjuang.

Kampung adat adalah sebutan lain dari daerah yang bernama Koto Padang Ranah Kecamatan Sijunjung. Pemuka adat setempat A Katib Rajo Endah mengatakan daerah ini juga sering disebut Koto Tuo. "Kami meyakini, Kabupaten Sijunjung bermula dari kampung ini," ujarnya.

Bermula dari Kampung Adat

A. Katib Rajo Endah berusia 62 tahun. Ia memiliki salah satu rumah gadang di Kampung Tuo. "Tapi dihuni oleh keluarga saya yang lain," ujarnya. Rajo Endah mendapatkan cerita tentang asal-usul kampung dari kakeknya secara turun temurun.

Dulu, sebutnya, kampung itu belum ada nagari dan tak ada pemimpin. Penghuni yang terus bertambah membuat penduduk di kampung itu mesti membuat nama dan memilih pemimpin. Diadakanlah rapat.

Rapat diadakan tak jauh dari Bukik ... Baca halaman selanjutnya